Rabu, 03 Juli 2013

Sebaiknya Teman?



Sebaiknya Teman

Ya tak ada seorang manusia yang hidup tanpa teman. Atau yang lebih dikenal dengan nama trennya yaitu sahabat atau best friend. Sejatinya apa itu sahabat?? Apakah mereka benar-benar ada atau hanya sebuah formalitas saja? Mengapa dianggap sebagai formalitas? Ya karena kehadirannya. Tidak dapat dipungkiri kehadirannya kadang ada maupun tidak ada.

Seiap orang punya ceritanya sendiri-sendiri, untuk berbagi sebuah ceritanya, cerita seding, senang, bahagia, galau, perasaan mereka membutuhkan seorang teman untuk berbagi. Kadang posisi teman ini mengalahkan posisi kedua orang tua sendiri. Kadang kita merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan teman yang sebaya maupun yang memiliki jarak usia yang tak cukup jauh dari kita.

Lantas bagaimanakah  teman itu berkembang menjadi teman sejati?
Pastinya kita memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda dengan orang lain. Untuk menutupi kekurangan kita itu, kita membutuhkan soerang teman, apalagi yang awalnya kalau manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kehadiran seorang teman sangat dibutuhkan. Untuk berbagi kebahagiaan, makan bareng, cerita bareng, seru-seruan bareng, berbagi kesusahan bareng, menangis bersama, hang-out bersama, melakukan hal-hal konyol, bahkan bertemu tanpa alasan pun.

Tidak dapat dipungkiri juga semakin dewasa kita semakin banyak kegiatan yang menanti kita. Tidak hanya kita, pasti teman kita juga memiliki kesibukannya sendiri, dengan dunianya itu. Faktor ini yang menyebabkan kadang kita merasa jauh dari seorang  sahabat, keberadaan sahabat sering kali dipertanyakan kembali. Menurut saya inilah tingkatan teman: pertama, saat kita duduk dibangku Sekolah Dasar teman adalah sebagai teman bermain saja, belum bisa memnentukan arah tujuan kita selanjutnya. Disini teman hanya sebagai teman bermain saa untuk bersenang-senang. Kedua saat kita sekolah menengah pertama, disini peran teman hanya sebatan tempat berbagi cerita senang. Bersama-sama melakukan hal baru yang tujuannya bersenang-senang.  Ketiga saat kita berada di sekolah menengah atas. Peran teman sedikit meningkat yaitu disini bisa memberika sedikit masukan komentar atau pendapat, bisa mengarahkan lebih baik kita kedepannya. Teman disini lebih mengarahkan kita ke hal-hal yang positif dan lebih baik lagi. Selain untuk berbagi juga, teman masa ini lebih bisa memilih-memilih lagi kegiatan mana yang baik dan tidak. Keempat teman saat kita kuliah, seperti apa teman saat ini? Teman saat ini adalah persaingan. Bukan hanya memikirkan hanya aku kamu, kita saja. Tapi kebanyakan ini tentang “aku” bukan “kita”.

Apakah dengan aku ada untuk kamu itu adalah sebuah teman. Sering kali perasaan malu maupun sungkan masih disembunyikan. Bukankah kalau sudah berteman itu kita bisa lebih terbuka untuk lebih jujur untuk setiap halnya? Agar tidak terjadi kesalah pahaman. Bahkan untuk sebagian orang tidak saling memahami untuk satu sama lainnya. Untuk mengerti diri sendiri saja kadang itu sulit, lantas bagaimana bisa kita mengerti perasaan orang lain. Kepekaan hati itu lah yang dibutuhkan. Saling berbagi menjadi lebih baik. Sikap keterbukaan antara sahabat menjadikan semuanya lebih enak. Saling menjaga perkataan. Menurunkan ego sendiri untuk kepentingan bersama. Bahkan kadang kecemburuan pun terjadi di pertemanan. Bersenanglah atas kebahagiaan temanmu atas yang mereka miliki.

Sedikit  dari saya
Bertemanlah dengan teman yang bisa membawa amu kejalan yang lebih baik
Berteman itu mudah, aku mengerti, memahami  kamu, kamu mengerti aku memahamiku
Bertemanlah yang tidak menyusahkan
Berteman itu kepada siapa saja, bukan dari siapa dianya
Mempunyai teman itu indah dan menyenangkan
Bermusuhan dengan teman itu hal biasa,,,,, sabarkanlah
Teman yang baik tidak mengumbar privasi temannya

Saran saya:
Jangan sepenuhnya percaya kepada orang lain

………………………………………………………………..………………………………..................I’m crazy now

Sabtu, 18 Mei 2013

Rabu, 15 Mei 2013


Rabu, 15 Mei 2013

Dalam Diam Mu

Aku melihatmu disudut sana, dimana kau berada dalam hitungan jarak didepanku, menatapku kaku ketika ku buka pintu rumah miliknya, lalu mengikuti langkah kakiku memberikan ruang untuk memulai sebuah pembicaraan dengan mencari posisi berjarak lebih yang menurut kamu itu kenyamanan kamu.

Aku masih terdiam beberapa lama melihatmu saat ini berada disisiku, berada didekatku dan itupun aku harus merelakan bahwa sebentar lagi waktunya kita berpisah lagi.

Lama aku masih terdiam terpaku, melihatmu, ENTAH, aku tak bisa berucap didepanmu, aku terdiam, tertunduk malu, bukan ini bukan malu, ini adalah rasa bahagia yang ku sembunyikan jauh di suatu tempat lain dihatiku. Tempat itu yang sekarang hanya kamu yang bisa memilikinya. Tempat dimana hanya ada aku dan kenangan ku da nada kamu sebagai penawarnya.

Aku masih terdiam,ketika kamu mulai berbicara. Aku terdiam melihatmu, aku melihatmu ketika kamu mmelihatku, dan kepercayaan akan hatiku yang telah hilang dulu, kini muncul lagi, bahkan kepercayaan itu tak pernah aku hilangkan sekejappun. Tak ada yang mampu menggoyahkan kepercayaanku terhadapmu.

Aku terdiam, aku masih terdiam, ketika aku mulai mencari alasan untuk bertanya. Tak ada alasan apapun, taka da pertanyaan. Hanya sebuah keyakinan kalau kamu masih memilikiku dan akupun masih memilikimu. Dan aku terus terdiam, memulai khayalanku yang lama tak berujung “ANDAIKAN”!!ya andaikan tak ada jarak antara kita, pastikan kalau hari ini kita bahagia.

Aku terdiam melihatmu sosok yang lama kunantikan hadirnya, sosok yang ku benci, sosok yang kusayang, dan seseorang yang kurindukan dalam setiap langkah kakiku. Dimanapun aku berada kamu menjadikanku lebih bersamamu, meskipun kita dalam jarak.

Ketika kumulai berbicara, aku menyesal melakukannya. Kalau saja waktu bisa berubah saat itu, aku tak akan membicarakannya. Aku akan terus terdiam. Aku akan biarkan diriku terdiam menatapmu, menguatkan hatiku bahwa kamu tak akan kembali lagi disini.

Aku terdiam melihat matamu, disitu kutemukan kedamaian. Di matamu aku melihat keresahan atasku. Aku terdiam aku tersenyum, aku percaya kamu masih miliki rasa itu.

Aku masih terdiam dalam jarakku bergejolak dalam hati, memikirkan cara bagaimana cara untuk mencegahmu agar tak pergi saat ini. Hingga benar benar saatnya kau melangkahkan kakimu pergi dariku. Kuhanya terdiam, aku merasakan kau ingin pergi saat itu, tapi hatimu masih ingin tetap tinggal. Ku terdiam, ingin mencegahmu, tapi aku tak punya arti lagi.

Aku tersenyum sekali lagi dengan kepergianmu, dengan menindukkan kepala, menyesali apa yang telah kuperbuat untukmu, aku mersa bersalah. Kini kau berpaling kepadaku. Kamu jalan mendekatiku, hingga tak ada jarak lagi antara kita. Aku masih terdiam membisu tak berucap. Mungkin kamu merasakan apa yang kurasakan saat itu. Aku menyukainya. Ya aku benar-benar merindukannya. Aku disampingnya saat itu, aku melihat senyumnya, aku melihat semangatnya, aku melihat dirinya dalam diriku, aku benar-benar berada disisinya. Dan aku mulai tersenyum untuknya

Andaikan taka da batasan, andaikan taka da jarak lagi, andaikan kesalahanku terhapuskan. Aku akan terus mengatakan kalau aku masih disini bersamanya.

Dan begitu waktu terus berjalan tanpa kompromi, saat yang aku khwatirkan datang juga. Dia meminta izin kepadaku untuk pergi dariku saat ini. Meninggalkan aku yang sendiri saat itu. Aku terdiam lagi tak berkata. Ingin kuucapkan “Selamat Tinggal” untukmu tapi hati ini tak berkuasa atas semuanya. Dan aku melihat langkah demi langkahmu menjauh.. dengan keadaan ini, aku memanggilmu, aku benar-benar memanggilmu, aku memanggilmu lagi dan lagi, tapi langkahmu tak terhentikan olehku. Kamu yang tadi berjarak denganku sekarang berjarak lebih jauh dan bayangmu lama lama memudar dari pandangan mataku dan menghilang.

Dan aku tersenyum untukmu hari itu, untuk waktu yang kau sempatkan untukku. Untuk perasaan yang kau berikan dank au tinggalkan untukku..

                                                                                                                                                             RR

Kamis, 09 Mei 2013

9 Mei 2013



 

Hidup bahagia, karena kau menikmati hidup
berawal dari kesalahan,
kini ku dapatkan sebuah pelajaran
dan tak akan terjadi kedua maupun selanjutnya lagi
memaafkan diri sendiri untuk hal yang lebih baik lagi