Sabtu, 18 Mei 2013

Rabu, 15 Mei 2013


Rabu, 15 Mei 2013

Dalam Diam Mu

Aku melihatmu disudut sana, dimana kau berada dalam hitungan jarak didepanku, menatapku kaku ketika ku buka pintu rumah miliknya, lalu mengikuti langkah kakiku memberikan ruang untuk memulai sebuah pembicaraan dengan mencari posisi berjarak lebih yang menurut kamu itu kenyamanan kamu.

Aku masih terdiam beberapa lama melihatmu saat ini berada disisiku, berada didekatku dan itupun aku harus merelakan bahwa sebentar lagi waktunya kita berpisah lagi.

Lama aku masih terdiam terpaku, melihatmu, ENTAH, aku tak bisa berucap didepanmu, aku terdiam, tertunduk malu, bukan ini bukan malu, ini adalah rasa bahagia yang ku sembunyikan jauh di suatu tempat lain dihatiku. Tempat itu yang sekarang hanya kamu yang bisa memilikinya. Tempat dimana hanya ada aku dan kenangan ku da nada kamu sebagai penawarnya.

Aku masih terdiam,ketika kamu mulai berbicara. Aku terdiam melihatmu, aku melihatmu ketika kamu mmelihatku, dan kepercayaan akan hatiku yang telah hilang dulu, kini muncul lagi, bahkan kepercayaan itu tak pernah aku hilangkan sekejappun. Tak ada yang mampu menggoyahkan kepercayaanku terhadapmu.

Aku terdiam, aku masih terdiam, ketika aku mulai mencari alasan untuk bertanya. Tak ada alasan apapun, taka da pertanyaan. Hanya sebuah keyakinan kalau kamu masih memilikiku dan akupun masih memilikimu. Dan aku terus terdiam, memulai khayalanku yang lama tak berujung “ANDAIKAN”!!ya andaikan tak ada jarak antara kita, pastikan kalau hari ini kita bahagia.

Aku terdiam melihatmu sosok yang lama kunantikan hadirnya, sosok yang ku benci, sosok yang kusayang, dan seseorang yang kurindukan dalam setiap langkah kakiku. Dimanapun aku berada kamu menjadikanku lebih bersamamu, meskipun kita dalam jarak.

Ketika kumulai berbicara, aku menyesal melakukannya. Kalau saja waktu bisa berubah saat itu, aku tak akan membicarakannya. Aku akan terus terdiam. Aku akan biarkan diriku terdiam menatapmu, menguatkan hatiku bahwa kamu tak akan kembali lagi disini.

Aku terdiam melihat matamu, disitu kutemukan kedamaian. Di matamu aku melihat keresahan atasku. Aku terdiam aku tersenyum, aku percaya kamu masih miliki rasa itu.

Aku masih terdiam dalam jarakku bergejolak dalam hati, memikirkan cara bagaimana cara untuk mencegahmu agar tak pergi saat ini. Hingga benar benar saatnya kau melangkahkan kakimu pergi dariku. Kuhanya terdiam, aku merasakan kau ingin pergi saat itu, tapi hatimu masih ingin tetap tinggal. Ku terdiam, ingin mencegahmu, tapi aku tak punya arti lagi.

Aku tersenyum sekali lagi dengan kepergianmu, dengan menindukkan kepala, menyesali apa yang telah kuperbuat untukmu, aku mersa bersalah. Kini kau berpaling kepadaku. Kamu jalan mendekatiku, hingga tak ada jarak lagi antara kita. Aku masih terdiam membisu tak berucap. Mungkin kamu merasakan apa yang kurasakan saat itu. Aku menyukainya. Ya aku benar-benar merindukannya. Aku disampingnya saat itu, aku melihat senyumnya, aku melihat semangatnya, aku melihat dirinya dalam diriku, aku benar-benar berada disisinya. Dan aku mulai tersenyum untuknya

Andaikan taka da batasan, andaikan taka da jarak lagi, andaikan kesalahanku terhapuskan. Aku akan terus mengatakan kalau aku masih disini bersamanya.

Dan begitu waktu terus berjalan tanpa kompromi, saat yang aku khwatirkan datang juga. Dia meminta izin kepadaku untuk pergi dariku saat ini. Meninggalkan aku yang sendiri saat itu. Aku terdiam lagi tak berkata. Ingin kuucapkan “Selamat Tinggal” untukmu tapi hati ini tak berkuasa atas semuanya. Dan aku melihat langkah demi langkahmu menjauh.. dengan keadaan ini, aku memanggilmu, aku benar-benar memanggilmu, aku memanggilmu lagi dan lagi, tapi langkahmu tak terhentikan olehku. Kamu yang tadi berjarak denganku sekarang berjarak lebih jauh dan bayangmu lama lama memudar dari pandangan mataku dan menghilang.

Dan aku tersenyum untukmu hari itu, untuk waktu yang kau sempatkan untukku. Untuk perasaan yang kau berikan dank au tinggalkan untukku..

                                                                                                                                                             RR

0 Komentar: