Kesuksesan
Masih ingatkah
kalian dengan pepatah buah jatuh tidak jauh dri pohonnya?
Ini sering kali dikaitkan dengan
keberadaan orang tua dengan anaknya. Seperti pada umumnya kehadiran seorang
anak itu begitu diharapkan. Begitu juga dalam kehidupan nantinya. Pasti semua
orang menginginkan mempunyai anak yang sukses dalam kehidupannya, juga anak
yang berbakti kepada orang tua. Kebanyakan banyak orang mengkaitkan kesuksesan
itu dengan materi. Dengan memiliki uang yang banyak, mobil, rumah mewah, maka itulah
penilaian tingkat kesuksesan seseorang pada umumnya.
Tidak dapat dipungkiri materi untuk
hidup di dunia ini sangat dibutuhkan. Bahkan itu menjadi faktor utama
dikehidupan ini. Sebenarnya tingkat kesuksesan sendiri itu tidak dilihat dari
seberapa banyak materi yang kita miliki, tetapi kesuksesan menurut saya itu
terletak pada seberapa orang itu dianggap berguna dan penting bagi kehidupan
orang lain.
Banyak hal yang mempengaruhi tingkat
kesuksesan seseorang.
Tidak ada orangtua yang tidak
mengharapkan anaknya sukses, pasti mereka mempunyai impiannya sendiri. Tapi terkadang
justru mereka sepenuhnya kurang berpartisipasi dalam membantu kesuksesan
anaknya. Padahal disini peran orang terdekat yaitu orangtua sangat diperlukan
untuk mencapai puncak kesuksesan.
Menurut saya banyak orang tua yang
hanya sekedar menjadi penyedia fasilitas saja, dengan memberikan dan
menyediakan semua yang dibutuhkan anaknya. Misalkan saja, orangtua yang
bertanggung jawab membiayai anaknya sekolah dan harus sekolah sampai kejenjang
yang lebih tinggi. Tujuan dan maksud orang itu memang berbeda-beda, beberapa
ada yang memeang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, tapi
tak banyak juga mereka hanya mementingkan status sosial saja. Pendidikan sebagai
tren, dan mengangkat sosialnya, meskipun itu kadang memakan biaya yang mahal
sekalipun mereka sanggup melakukan. Bahkan nama tingkat pendidikanpun itu
menjadi sebuah kepentingan tersendiri. Sebagai penyedia fasilitas, seagian
orangtua mungkin beranggapan kalau anaknya tercukupi dari segi fasilitasnya itu
mungkin cukup membantu, tapi dimana peran orang tua? Apakah seorang anak
menggunakan fasilitas itu dengan baik? Atau palah disalah gunakan? Menyediakan les
privat, memelikan gadgets penunjang dan lainnya. Seharusnya dalam hal ini
orangtua lebih mengawasi perkembangan anaknya. Tidak ada salahnya jika kadang orangtua turut serta
mengajarkan kepada anaknya. Memberikan contoh yang baik.
Kembali ketopik tadi yaitu tingkat
kesuksesan. Kadang orang tua terlalu memaksakan kehendaknya, dengan
menginginkan anak menjadi seperti dirinya atau bahkan lebih dari dirinya, tanpa
melihat kondisi maupun kemampuan anaknya tersebut. Hal ini bisa menjadikan
seorang anak menjadi tekanan batin untuk mengikuti kemauan orangtuanya, apalagi
yang katanya kalau tidak mau menurut maka banyak hal-hal yang harus
dipertimbangkan lagi. Menurut saya dalam hal ini komunikasi orang tua dan anak
itu harus berjalan dengan baik, bagaimana bisamereka saling memahami kalau
mereka tidak saling mengerti satu sama lain. Ini juga tergantung dari sifat
individu masing-masing entah itu dari si anak tersebut maupun si orang tuanya. Sebaiknya
dalam hal ini orang tua jangan terlalu memaksakan kehendaknya, mereka bisa
menanyakan terlebih dahulu apa yang diinginkan anaknya. Dan peran oran tua
disini, harus serba hati-hati ini menyangkut tentang masa depan anaknya, mereka
harus bisa membimbing, mengarahkan kepada anaknya tentang pilihan yang telah
dibuatnya. Jangan ada salah komunikasi, karena nantinya bisa fatal sekali. Dan
jangan juga memaksakan kehendak untuk mengikuti kemauan oang tua itu sendiri,
karena jika dalam hal ini sang anak tidak mau, maka dia bisa menjalaninya
dengan setengah hati bahkan tidak pernah minati hal yang telah dipilihkan. Ini bisa
menjadikan alasan anak selalu menyalahkan orangtua terhadap pilihannya. Dan sebagai
seorang anak juga harus mempertimbangkan pilihan orang tua juga, karena
orangtua lebbih berpengalaman dan mereka menentukan pilihan itu tidak mungkin menentukan
pilihan yang buruk untuk anaknya. Jadi harus difikirkan matang-matang lagi.
Lalu ada pertanyaan seperti ini: bagaimana
jika orangtua selalu mengeluhkan tentang kemampuan anaknya yang berbeda dari
anaknya yang lain?
Ya begini begini saya uraikan lagi. Ini
sebagai contoh saja. Misalkan satu keluarga itu terdiri dari seorang ayah yang
bekerja sebagai seorang dosen sekaligus konsultan sedangkan ibunya adalah seorang
ibu rumah tangga biasa, mereka memiliki 3 anak. Anak ketiga duduk di SMA favorit di Daerahnya, bahkan dia terkenal
dengan selalu mendapatkan juara, orang
tua mana yang tidak bangga mempunyai anak seperti itu, anak yang bisa
dibanggakan dan di elu-elukan keberadaannya. Disamping itu Anak kedua menjadi
bekerja di perusahaan milik negara, gajinya lumayan besar. Orang tua ini juga
bangga memiliki rasa bangga yang cukup tinggi. Nah disini anak pertama mereka,
anak pertama ini memilih menjadi sorang designer dan sangat tertarik untuk
berwirausaha, dan juga kehidupan sosial disekitarnya. Dalam hal ini orang tua (Ayah)
ini lebih membanding-bandingkan hidup mereka bertiga, bahkan ayah mereka
sedikit malu dengan keberadaan anak pertamanya. Jarang sekali melakukan
komunikasi dengan anak pertamanya. Karena dulu anaknya tak mau mengikuti
kemauan ayahnya.
Untuk kasus ini, tentunya menjadi
anak pertama itu adalah tantangan yang berat, bagaimana caranya agar anak
pertama membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa dia bisa mencapai
kesuksesannya sendiri, dengan pilihan yang dipilihnya sendiri.
Sebagai orangtua sebaiknya jangan ada
perbandingan diantara mereka, jika mereka merasa tidak bangga maupun tidak
menganggap diri kita, itu tandanya mereka juga mencela dirinya sendiri, karena buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya.
Ya mungkin untuk kasus diatas anak kedua dan ketiga mendapatkan warisan yang
baik-baik dari mereka, sedangkan anak pertama, mendapatkan warisan yang buruk. Apakah
ini menjadi kesalahan anaknya?? sebaiknya lebih subyektif lagi untuk menilai
sesuatu. Apalagi ini menyangkut tentang
perasaan seseorang yaitu anak sendiri. Akan lebih sakit lagi kalau ternyata
orang terdekat yang menyakitinya.
Jadi sekarang buat orang tua,
mencobalah untuk memperbaiki diri ya….jangan semata-mata menyalahkan anaknya
terus, lebih baik dibicarakan agar lebih jelas :) sehingga tidak muncul
fikiran-fikiran negative yang tak baik.
Sedikit mengingat nenek saya pernah
mengatakan dalam pembicaraannya dengan tetangganya
Ibaratkan
saja telur ayam, meskipun masih dalam satu produk ada yang menetas, ada juga
yang busuk, ada yang halus, ada juga yang retak. Karena memang didunia ini tidak ada
yang sempurna…
Jadi silahkan anda berfantasi dengan
fikiran-fikiran anda sendiri. Jangan menyalahkan kedua orangtua yak.. Tapi menyayangi
kedua orang tua itu wajib lho… :)
Eits.. ini saya sudah sampai
kemana-mana ya ceritanya.. ini sih Cuma pendapat saya saja. Tadi sebenarnya Cuma
terlintas saja fikiran kalau besok saya pengen banget menjadi ibu, teman dan
kakak sekaligus untuk anakku nantinya,. :)
Semoga menkmati……..
22 Juli 2013
rdk
0 Komentar:
Posting Komentar