Senin, 22 Juli 2013

Kesuksesan



Kesuksesan

Masih ingatkah kalian dengan pepatah buah jatuh tidak jauh dri pohonnya?

Ini sering kali dikaitkan dengan keberadaan orang tua dengan anaknya. Seperti pada umumnya kehadiran seorang anak itu begitu diharapkan. Begitu juga dalam kehidupan nantinya. Pasti semua orang menginginkan mempunyai anak yang sukses dalam kehidupannya, juga anak yang berbakti kepada orang tua. Kebanyakan banyak orang mengkaitkan kesuksesan itu dengan materi. Dengan memiliki uang yang banyak, mobil, rumah mewah, maka itulah penilaian tingkat kesuksesan seseorang pada umumnya.

Tidak dapat dipungkiri materi untuk hidup di dunia ini sangat dibutuhkan. Bahkan itu menjadi faktor utama dikehidupan ini. Sebenarnya tingkat kesuksesan sendiri itu tidak dilihat dari seberapa banyak materi yang kita miliki, tetapi kesuksesan menurut saya itu terletak pada seberapa orang itu dianggap berguna dan penting bagi kehidupan orang lain.

Banyak hal yang mempengaruhi tingkat kesuksesan seseorang.
Tidak ada orangtua yang tidak mengharapkan anaknya sukses, pasti mereka mempunyai impiannya sendiri. Tapi terkadang justru mereka sepenuhnya kurang berpartisipasi dalam membantu kesuksesan anaknya. Padahal disini peran orang terdekat yaitu orangtua sangat diperlukan untuk mencapai puncak kesuksesan.

Menurut saya banyak orang tua yang hanya sekedar menjadi penyedia fasilitas saja, dengan memberikan dan menyediakan semua yang dibutuhkan anaknya. Misalkan saja, orangtua yang bertanggung jawab membiayai anaknya sekolah dan harus sekolah sampai kejenjang yang lebih tinggi. Tujuan dan maksud orang itu memang berbeda-beda, beberapa ada yang memeang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, tapi tak banyak juga mereka hanya mementingkan status sosial saja. Pendidikan sebagai tren, dan mengangkat sosialnya, meskipun itu kadang memakan biaya yang mahal sekalipun mereka sanggup melakukan. Bahkan nama tingkat pendidikanpun itu menjadi sebuah kepentingan tersendiri. Sebagai penyedia fasilitas, seagian orangtua mungkin beranggapan kalau anaknya tercukupi dari segi fasilitasnya itu mungkin cukup membantu, tapi dimana peran orang tua? Apakah seorang anak menggunakan fasilitas itu dengan baik? Atau palah disalah gunakan? Menyediakan les privat, memelikan gadgets penunjang dan lainnya. Seharusnya dalam hal ini orangtua lebih mengawasi perkembangan anaknya. Tidak ada  salahnya jika kadang orangtua turut serta mengajarkan kepada anaknya. Memberikan contoh yang baik.

Kembali ketopik tadi yaitu tingkat kesuksesan. Kadang orang tua terlalu memaksakan kehendaknya, dengan menginginkan anak menjadi seperti dirinya atau bahkan lebih dari dirinya, tanpa melihat kondisi maupun kemampuan anaknya tersebut. Hal ini bisa menjadikan seorang anak menjadi tekanan batin untuk mengikuti kemauan orangtuanya, apalagi yang katanya kalau tidak mau menurut maka banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan lagi. Menurut saya dalam hal ini komunikasi orang tua dan anak itu harus berjalan dengan baik, bagaimana bisamereka saling memahami kalau mereka tidak saling mengerti satu sama lain. Ini juga tergantung dari sifat individu masing-masing entah itu dari si anak tersebut maupun si orang tuanya. Sebaiknya dalam hal ini orang tua jangan terlalu memaksakan kehendaknya, mereka bisa menanyakan terlebih dahulu apa yang diinginkan anaknya. Dan peran oran tua disini, harus serba hati-hati ini menyangkut tentang masa depan anaknya, mereka harus bisa membimbing, mengarahkan kepada anaknya tentang pilihan yang telah dibuatnya. Jangan ada salah komunikasi, karena nantinya bisa fatal sekali. Dan jangan juga memaksakan kehendak untuk mengikuti kemauan oang tua itu sendiri, karena jika dalam hal ini sang anak tidak mau, maka dia bisa menjalaninya dengan setengah hati bahkan tidak pernah minati hal yang telah dipilihkan. Ini bisa menjadikan alasan anak selalu menyalahkan orangtua terhadap pilihannya. Dan sebagai seorang anak juga harus mempertimbangkan pilihan orang tua juga, karena orangtua lebbih berpengalaman dan mereka menentukan pilihan itu tidak mungkin menentukan pilihan yang buruk untuk anaknya. Jadi harus difikirkan matang-matang lagi.

Lalu ada pertanyaan seperti ini: bagaimana jika orangtua selalu mengeluhkan tentang kemampuan anaknya yang berbeda dari anaknya yang lain?

Ya begini begini saya uraikan lagi. Ini sebagai contoh saja. Misalkan satu keluarga itu terdiri dari seorang ayah yang bekerja sebagai seorang dosen sekaligus konsultan sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, mereka memiliki 3 anak. Anak ketiga duduk di SMA  favorit di Daerahnya, bahkan dia terkenal dengan selalu  mendapatkan juara, orang tua mana yang tidak bangga mempunyai anak seperti itu, anak yang bisa dibanggakan dan di elu-elukan keberadaannya. Disamping itu Anak kedua menjadi bekerja di perusahaan milik negara, gajinya lumayan besar. Orang tua ini juga bangga memiliki rasa bangga yang cukup tinggi. Nah disini anak pertama mereka, anak pertama ini memilih menjadi sorang designer dan sangat tertarik untuk berwirausaha, dan juga kehidupan sosial disekitarnya. Dalam hal ini orang tua (Ayah) ini lebih membanding-bandingkan hidup mereka bertiga, bahkan ayah mereka sedikit malu dengan keberadaan anak pertamanya. Jarang sekali melakukan komunikasi dengan anak pertamanya. Karena dulu anaknya tak mau mengikuti kemauan ayahnya.

Untuk kasus ini, tentunya menjadi anak pertama itu adalah tantangan yang berat, bagaimana caranya agar anak pertama membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa dia bisa mencapai kesuksesannya sendiri, dengan pilihan yang dipilihnya sendiri.

Sebagai orangtua sebaiknya jangan ada perbandingan diantara mereka, jika mereka merasa tidak bangga maupun tidak menganggap diri kita, itu tandanya mereka juga mencela dirinya sendiri, karena buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya mungkin untuk kasus diatas anak kedua dan ketiga mendapatkan warisan yang baik-baik dari mereka, sedangkan anak pertama, mendapatkan warisan yang buruk. Apakah ini menjadi kesalahan anaknya?? sebaiknya lebih subyektif lagi untuk menilai sesuatu.  Apalagi ini menyangkut tentang perasaan seseorang yaitu anak sendiri. Akan lebih sakit lagi kalau ternyata orang terdekat yang menyakitinya.

Jadi sekarang buat orang tua, mencobalah untuk memperbaiki diri ya….jangan semata-mata menyalahkan anaknya terus, lebih baik dibicarakan agar lebih jelas :) sehingga tidak muncul fikiran-fikiran negative yang tak baik.

Sedikit mengingat nenek saya pernah mengatakan dalam pembicaraannya dengan tetangganya
Ibaratkan saja telur ayam, meskipun masih dalam satu produk ada yang menetas, ada juga yang busuk, ada yang halus, ada juga yang retak. Karena memang didunia ini tidak ada yang sempurna…

Jadi silahkan anda berfantasi dengan fikiran-fikiran anda sendiri. Jangan menyalahkan kedua orangtua yak.. Tapi menyayangi kedua orang tua itu wajib lho… :)

Eits.. ini saya sudah sampai kemana-mana ya ceritanya.. ini sih Cuma pendapat saya saja. Tadi sebenarnya Cuma terlintas saja fikiran kalau besok saya pengen banget menjadi ibu, teman dan kakak sekaligus untuk anakku nantinya,. :)
Semoga menkmati……..

22 Juli 2013
rdk

0 Komentar: