Minggu, 22 Juli 2012

The History of my Village

The History of my village

Kedung Begal adalah sebuah dusun yang terletak di desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal , Semarang Jawa Tengah. Ya itulah desaku. Seperti desa-desa lainnya desaku juga mempunyai sejarahnya sendiri . Setelah menemui sumber-sumber yang bisa dipercaya,  yaitu sesepuh dari desa Kedung Begal atau Dong Begal ini, kebanyakan menceritakan hal yang sama. Yaitu bahwa ceritanya memang benar ada.

Kedung Begal atau Dongbegal terdiri dari 2 kata yaitu Kedung dan Begal. Kedung yaitu seperti pusaran air yang ada di sebuah sungai. Atau bisa juga Sungai yang dalam airnya. Sedangkan Begal adalah sejenis perampok atau penjahat yang suka menodong orang dimalam hari. Penggabungan dari kedua kata yaitu Kedung Begal. Berbagai cerita yang mengartikan Kedung Begal. Konon katanya Kedung Begal itu karena adanya cerita yaitu pada suatu hari ada pengantin yang lewat ke sungai didaerah ku itu, dan tak lama kemudian Pengantin itu meninggal, itu membuat asumsi-asumsi masyarakat bahwa Kedung/Sungai nya itu membegal atau mengambil nyawa dari pengantin itu. Dan sampai sekarang masih ada juga yang percaya cerita itu, dan mereka yang percaya itu diwajibkan melakukan ritual yaitu Jika sewaktu menikah si pengantin itu melewati Sungai, harus dikorbankan atau menyembelih seekor ayam jantan yang kemudian diceburkan ke Sungai itu.

Cerita versi lainnya tentang asal usul desa Kedung Begal yaitu karena Didesaku memang ada Kedung/ Sungai yang dalam dan disitu orang-orang jarang melewatinya yang kononnya angker, karena dalam Sungai itu juga terdapat pusaran air. Selanjutnya kata Begal yaitu karena letak desaku yang masih dibilang hutan-hutan, apalagi disebelahnya Sungai besar itu. Konon katanya dulu di desaku tak jauh dari Sungai itu ada kawanan begal yang suka merampas uang dan menodong uang kepada orang-orang yang lewat disitu terlalu larut malam. Tempat itu tak jauh dari Jembatan kecil berukuran lebar 1,5 meter dan panjang 20 meter an, yang kebetulan disitu tempatnya memang dibilang sunyi, hutan-hutan dan ada sebuah bangunan tua yang tak berpenghuni ditambah suasana gemricik air sungai. Disitu juga terdapat sebuah batu besar yang orang-orang meyebutnya Watu Ngorok. Keadaan yang sangat mendukung untuk melakukan begal. Apalagi waktu itu disitu masih jarang rumah dibangun karena memang keadaannya berada di tanjakan atau biasa dipanggil “Sengkan”. Jadi dahulu orang-orang lebih memilih untuk memilih jalan yang lebih jauh untuk pelang kerumah daripada lewat disitu.

Dan seiring dengan perkembangan teknologi dan budaya, sekarang ini cerita itu hanya dianggap sebagai mitos belaka. Tapi masih banyak juga yang mempercayainya dan harus melakukan ritual-ritual. Terutama para sesepuh. Mereka rata-rata masih mempercayainya. Sekarang tempat itu lebih baik. Jembatannya sudah dibangun yang lebih layak, dan disekitar “Sengkan” itu sudah banyak berdiri rumah penduduk meskipun hanya sebagian. Dan setelah jembatan ada Perumahan baru yang cukup ramai juga. Berangsur-angsur orang tidak memperhatikan mitos-mitos kayagituan. Meskipun kadang akupun sendiri takut melewatinya kalau harus melewati jika sewaktu pulang malam. Ya meskipun ramai, disitu masih belum dipasang lampu yang mencukupi. Kadang masih merinding juga kalu lewat.

Sekarang ini nama Kedung Begal berangsur-angsur berganti lagi namanya menjadi Rowosari itu dikarenakan di Lapangan Desaku selalu mengeluarkan air membentuk sebuah rawa. Meskipun itu rawa itu muncul hanya ketika musim penhujan saja. Lapangan yang cukup luas itu menampung banyak air sewaktu musim hujan. Dan bisa penuh sampai membanjiri jalan raya. Dan tiap rawa itu muncul itu dimanfaatkan warga untuk mendapatkan uang, yaitu dengan berjualan disitu setiap sore hari, karena letak nya yang sangat strategis, setiap sore juga banyak orang yang untuk sekedar melihat rawa, selain itu juga disediakan sebuah “getek” yang orang-orang nantinya bisa dibawa keliling rawa. Dengan cukup membayar 3000 rupiah saja. Hampir tiap sore ramai karena ada rawa itu.

Sekarang ini kesepakatan warga semua Nama Kedung Begal atau Dong Begal berubah menjadi Rowosari, meskipun begitu pada kenyataannya orang-orang lebih tahu tentang Dong Begal daripada Rowosari.

0 Komentar: